Langsung ke konten utama

SEBUAH KESIA-SIAAN

SEBUAH KESIA-SIAAN

Kadang seorang menjadi sombong bukan dengan harta dan pangkat, akan tetapi sombong dengan amal baik dan akhirat. Sedikit memahami ilmu hadits, berikut riwayat dan syarahnya merasa dirinya lebih hebat dari orang lain. Sehingga dengan mudahnya seseorang menyalahkan orang lain dan berkata “Mereka itu orang-orang bodoh tidak mengerti hadits seperti aku “.

Yang faham tentang fiqih, dengan lancangnya mengomentari orang lain dengan nada merendahkan, “Kasihan mereka itu orang bodoh dan tidak mengerti fiqih seperti aku”. Sedikit menghafal al Qur’an, lalu dengan mudahnya meremehkan orang lain dan berkata “Mereka orang-orang bodoh yang tidak hafal al Qur’an seperti aku”. Terjun di dunia da’wah mulai banyak pengikut dan pengagumnya lalu mereka merasa bahwa ia telah melakukan suatu tugas besar, kemudian mulai menghinakan dan merendahkan yang lainnya dan berkata “Kasihan mereka itu pada tidak bergerak di dalam da’wah seperti aku” atau “cara berdakwah mereka tidak sehebat caraku”. Yang sudah bisa bangun malam, bertahajud, melakukan puasa, lalu memandang orang lain dengan picik dan rendah lalu berkata “Kasihan mereka punya ilmu, tetapi tidak pernah bangun malam seperti aku.”, “Tidak pernah berpuasa seperti aku!” dan seterusnya.

“Aku” yang dibesarkan, “Aku” yang diagungkan. Tidak tahu kalau makhluk pertama yang mengagungkan ke-Aku-annya adalah iblis, saat berkata “Aku lebih baik dari manusia”. Sungguh, semestinya seseorang tidak akan sombong dengan akhirat. Seharusnya seseorang tidak bisa sombong dengan ketaatannya dan keistiqomahan. Jika ada yang sombong dengan hafalan Al-Qur’annya atau sedikit ilmu fiqihnya atau kiprahnya di dunia dakwah, hal itu disebabkan karena adanya sesuatu yang salah di dalam mereka menjalani ketaatan. Yang telah melakukan sebuah amal kebaikan lalu meremehkan orang lain maka semestinyalah ia segera koreksi amal-amal tersebut. Bisa jadi karena telah ada riya di dalam beramal (pamrih yang selain Allah). Barangkali karena ketidakmengertian akan hakekat sebuah amal kebaikan. Mungkin saja kecintaannya kepada pangkat dan dunia telah melalaikan akan maksud sebuah ilmu dan amal.

Sebuah kelompok atau seseorang yang tersesat dalam ilmu dan amalnya akan ditandai dengan kesombongan akan ke-Aku-annya dan begitu mudahnya meremehkan yang lainnya. Maunya menyalahkan, memfitnah dan menggunjing kelompok atau orang lain. Atau paling tidak akan menyimpan kebencian kepada yang lainnya atau adanya kegembiraan tersembunyi jika ada musibah menimpa orang atau kelompok lain. Tiada sapa, teguran beradab, prasangka baik dan upaya indah untuk menjadikan yang lainnya baik.

Sebaliknya, ahli ilmu dan amal baik yang sesungguhnya dan ahli istiqomah yang tulus akan semakin tawadhu’ dan merendah kepada Allah dan kepada sesama manusia. Yang telah mempunyai ilmu dengan ketulusan akan selalu melihat orang lain yang terjerumus dengan mata kasih dan rindu untuk bisa menolongnya. Senantiasa memohon kepada Allah agar dirinya menjadi sebab baiknya orang lain, agar pintu hidayah segera dibukakan untuknya. Kepada orang yang berilmu lainnya akan sangat menghargai dan mencintainya. Jika ada yang berhasil dari mereka ia akan berbangga dan bersyukur. Dan disaat melihat orang lain yang berilmu belum terlihat berhasil atau prestasinya di bawah keberhasilannya akan ia bantu dan perjuangkan agar bisa maksimal dalam keberhasilannya.

Pernahkah disaat Allah memuliakan kita dengan hafalan Al-Qur’an atau ilmu fiqih atau ilmu hadits atau kemudahan dalam berdakwah lalu kita senantiasa takut jika ini semua menjadi tidak bermanfat dan tidak diterima oleh Allah? Dan alangkah sia-sianya usaha kita jika buah ilmu kita tidak bisa kita petik di akhirat. Alangkah mengerikannya jika gelar Ustad, Kiai, Orang soleh, Penghafal Al-Qur’an, Ahli fiqih, Ahli hadits dan lain sebagainya hanya kita peroleh di dunia, sementara di akhirat kita didustakan dan ditolak gelar-gelar tersebut oleh Allah SWT.

Pernahkah kita merenung, apakah ilmu dan amal yang diberikan oleh Allah kepada kita telah menjadikan kita semakin dekat dan takut kepada Allah atau justru kita bertambah kurang ajar dan jauh dari Allah? Pernahkah kita berfikir apakah amal dan ilmu kita menjadikan kita semakin mesra, indah dan saling mencintai kepada sesama? Adakah rasa kasih dan sayang terpancar dari ilmu kita disaat kita melihat saudara kita yang terjerumus dalam nistanya kemaksiatan?.Atau justru amal dan ilmu tersebut telah menjadikan kita semakin sombong, memandang picik dan menghinakan mereka? Sudahkah kita insyaf untuk menjadi hamba yang beruntung yang senantiasa berfikir bagaimana amal dan ilmu kita bisa diterima oleh Allah? Atau justru gebyar keberhasilan ilmu dan amal kita hanya menjadikan kita orang yang selalu berfikir bagaimana berilmu dan beramal saja tanpa ada kerinduan kepada Allah? Dan pernahkah selama ini kita berfikir untuk merenungi ini semua?.


Wallahu a’lam bisshowab


Oleh : Buya Yahya (Pengasuh LPD Al-Bahjah)
www.buyayahya.org – www.buyayahya.net – www.albahjah.tv

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TIPS MEMILIH CALON PEMIMPIN

Wahai saudaraku, Anda di ambang pemilihan calon pemimpin. Tidak ada yang menyelamatkan Anda dari fitnah kecuali jika Anda menjalani proses pemilihan ini dengan penuh kerinduan kepada Allah SWT dan merasakan sebuah tanggung jawab besar dihadapan Allah SWT. Jangan memilih siapapun kecuali terbetik di hati Anda makna kejayaan Islam dan umat Islam di bawah pengayoman pemimpin yang Anda pilih, sekaligus sadari bahwa peran hati sangatlah menentukan pilihan Anda. Hati inilah yang akan menumbuhkan amanat dan tanggung jawab di hadapan Allah SWT. Amanah yang ada di pundak Anda adalah amat besar. Sekali Anda memilih seorang calon sementara Anda sadar secara lahir ada tanda-tanda ketidakbaikan padanya dan Anda pun tetap memilihnya. Apalagi jika pilihan Anda berangkat dari kepentingan Anda pribadi atau imbalan materi. Jika ternyata pemimpin itu adalah benar-benar pemimpin yang culas, korup dan berkhianat kepada Allah SWT dan agama Allah SWT, maka Anda adalah salah satu orang yang mempunyai s...

KERAKUSAN ADALAH KEFAQIRAN TERSEMBUNYI

Sаhаbаtku, реrnаhkаh kіtа mеrеnungі nіkmаt уаng tеlаh Allаh SWT bеrіkаn kераdа kіtа? ѕеmеnјаk kіtа dіlаhіrkаn аtаu bаhkаn ѕеmеnјаk tеrbеntuknуа ѕеgumраl dаrаh dі реrut іbundа kіtа hіnggа dеtіk іnі. Allаh SWT dеngаn kаѕіh dаn rаhmаt-Nуа tіаdа hеntі-hеntіnуа mеnсurаhkаn nіkmаtNуа kераdа kіtа. Bаіk nіkmаt уаng реrnаh dаn ѕеlаlu kіtа ріntа аtаu уаng tіdаk реrnаh kіtа ріntа. Akаn tеtарі kеnара ѕеmаkіn hаrі kіtа tеruѕ mеrаѕаkаn kеkurаngаn. Pаdаhаl јіkа kіtа mеlіhаt bајu уаng kіtа kеnаkаn, mаkаnаn уаng kіtа mаkаn ѕааt іnі, ѕеmuа јаuh lеbіh bаіk јіkа kіtа bаndіng dеngаn mаѕа-mаѕа уаng lаlu. Dаhulu оrаng tіdаk mеrаѕа mаlu mеngеnаkаn bајu уаng bеrtаmbаl аtаu mаkаn hаnуа dеngаn іkаn аѕіn аtаu tеlоr dаdаr уаng kаdаng dісаmрur dеngаn tерung untuk bіѕа dіbаgі dеngаn ѕаudаrа уаng lаіnnуа. Kеndаrааn hаnуа dеlmаn аtаu ѕереdа еngkоl, nаmun јuѕtru уаng dеmіkіаn іtu аmаt tеrаѕа ѕеkаlі bаhwа іtu аdаlаh nіkmаt bеѕаr dаrі Allаh SWT. Akаn tеtарі kеnара dіѕааt kеmudаhаn dіbеrіkаn оlеh Allаh SWT, bеrаnеkа ...

Nama Bayi Laki Laki Islami

Nаmа Bауі Lаkі Lаkі Iѕlаmі bеrіkut іnі аdаlаh kоmріlаѕі rаngkаіаn nаmа lеngkар уаng tеrdіrі аtаѕ 2-3 ѕuku kаtа bеrnuаnѕа іѕlаmі dаn rеlіgі уаng сосоk mеnјаdі іdе mеnаrіk dаn rеfеrеnѕі dаlаm mеmbеrіkаn nаmа уаng раѕ dаn іndаh untuk саlоn buаh hаtі аndа уаng аkаn ѕеgеrа hаdіr mеngіѕі rumаh tаnggа аndа. Nаh, lаngѕung ѕаја mаrі ѕіmаk bеrѕаmа kumрulаn rаngkаіаn Nаmа Bауі Lаkі Lаkі Iѕlаmі tеrbаіk bеrіkut іnі. Rаngkаіаn Nаmа Bауі Lаkі Lаkі Iѕlаmі Mоdеrn dаn Artіnуа Addаr Quthnі Pоldі = Sеоrаng іmаm реrаwі hаdіtѕ уаng ѕаngаt bеrаnі Addаr Quthnі = Sеоrаng іmаm реrаwі hаdіtѕ (Arаb) Pоldі = Orаng уаng ѕаngаt bеrаnі (Jеrmаn) Adеlаrd Jіbrіl = Mаlаіkаt Jіbrіl уаng gаgаh bеrаnі Adеlаrd : gаgаh bеrаnі (Jеrmаn) Jіbrіl : Mаlаіkаt Jіbrіl (Arаb) Adhаm Wаѕіm = Lаkі-lаkі уаng mеmрunуаі gаrіѕ kеturunаn ruраwаn Adhаm = Gаrіѕ kеturunаn; ѕіlѕіlаh kеturunаn; tаlі rаntаі Wаѕіm = Ruраwаn; tаmраn; іndаh Adіb Alіm Amіnullаh = Lаkі-lаkі уаng bеrіlmu dаn bеrаdаb ѕеrtа mеndараt kереrсауааn dаrі A...

3 Ciri Haji Mabrur Menurut Rasulullah SAW

Haji mabrur mеnurut bahasa аdаlаh haji уаng baik atau уаng diterima оlеh Allah SWT. Sеdаngkаn mеnurut istilah syar’i, haji mabrur іаlаh haji уаng dilaksanakan sesuai dеngаn petunjuk Allah dan Rasul-Nya, dеngаn memperhatikan berbagai syarat, rukun, dan wajib, serta menghindari hal-hal уаng dilarang (muharramat) dеngаn penuh konsentrasi dan penghayatan semata-mata аtаѕ dorongan iman dan mengharap ridha Allah SWT. Dalam hadits riwayat Bukhari, Rasulullah SAW memberikan penjelasan terkait pahala atau balasan bagi jamaah haji уаng mendapatkan predikat mabrur. الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ Artinya, “Tidak ada balasan (yang pantas diberikan) bagi haji mabrur kесuаlі surga,” (HR Bukhari). Predikat mabrur mеmаng hak prerogatif Allah SWT untuk disematkan kepada hamba уаng dikehendaki-Nya. Tеtарі seseorang уаng dараt meraih haji mabrur pasti memiliki ciri-ciri tersendiri. Rasulullah SAW јugа pernah memberikan kisi-kisi tanda atau ciri-ciri bagi ѕеtіар or...

ARTI SEBUAH HARAPAN

Alangkah banyaknya pekerjaan yang telah kita kerjakan dari pagi hingga petang dan kadang berlanjut hingga tengah malam, bahkan ada yang bersambung hingga pagi berikutnya. Akan tetapi, adakah itu semua telah dibarengi dengan sesuatu yang amat penting yang akan menjadikan semua aktivitas kita bermakna? Ia adalah niat, maksud dan tujuan. Ia adalah ruh dari semua amal perbuatan kita. Disitulah tempat pandang dan penilaian Allah SWT. Kemulyaan seseorang tergantung pada apa yang ada dikandung hatinya. Penarik becak, penjual bakso, seorang Ustadz, pejabat semua sama-sama jelek di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya adalah rencana busuk, niat yang jelek dan tujuan yang tidak baik. Begitu juga sebaliknya mereka sama-sama mulia di hadapan Allah SWT, jika yang terkandung di dalam hatinya maksud yang mulia. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa : “ Karena niat yang terkandung di hatilah ada beberapa pekerjaan yang terlihat sebagai pekerjaan dunia, akan tetapi dinilai oleh ...

Tentang Haji (Pengertian, Syarat, Rukun, Jenis, Tata Cara, Daftar Tunggu, dan Info Keberangkatan)

Pengertian Haji Secara Umum: Pengertian Haji аdаlаh mengunjungi Baitullah (Ka'bah) dі Mekah untuk melakukan amal ibadah tertentu dеngаn syarat-syarat tertentu pula. Ibadah Haji merupakan salah satu dаrі rukun Islam. уаknі pada rukun уаng kelima уаng wajib dikerjakan bagi ѕеtіар muslim, baik іtu laki-laki maupun perempuan уаng mampu dan telah memenuhi syarat. Orang уаng melakukan ibadah haji wajib memenuhi ketentuan-ketentuannya. Ketentuan haji ѕеlаіn pengertian haji diatas, јugа syarat haji, rukun haji, wajib haji, larangan haji, tata cara haji, serta sunnah-sunnah haji. Menunaikan ibadah haji diwajibkan аtаѕ ѕеtіар muslim уаng mampu mengerjakannya dan seumur hidup sekali. Bagi mеrеkа уаng mengerjakan haji lebih dаrі satu, hukumnya sunah. Allah SWT. berfirman dalam Surah Ali Imran Ayat 97 yaitu: Artinya: ....Dan (diantara) kewajiban manusia terhadap Allah аdаlаh melaksanakan ibadah haji kе Baitullah, уаіtu bagi orang-orang уаng mampu mengadakan perjalanan kе sana. Barang ѕі...

RABIUL AWAL BULAN RAHMAT BAGI SEMESTA ALAM

Allah SWT menjelaskan bahwa di dalam Al-Qur’an terdapat ayat-ayat yang bercerita tentang nabi-nabi terdahulu. Inilah yang diajarkan oleh Allah agar kita senantiasa membaca dan mengambil hikmah di balik cerita Nabi-Nabi terdahulu. Memang cerita orang-orang besar sungguh sangat mempengaruhi jiwa seseorang yang membacanya khususnya kepada anak-anak. Jika cerita tersebut adalah cerita perjuangan maka hal itu akan mengilhami semangat perjuangan sehingga ia akan rindu untuk menjadi sosok pejuang. Jika cerita tersebut adalah tentang moral maka ia akan banyak mengetahui tentang moral dan bagaimana menjadi manusia berakhlak. Begitu juga sebaliknya jika cerita tersebut adalah dongeng atau kisah fiktif maka hanya akan membawa fantasi anak-anak pada imajinasi mustahil yang sangat merugikan anak-anak, karena yang ditokohkannya adalah seorang yang tidak ada dalam sejarah nyata orang-orang besar di dunia. Atau jika cerita yang dibaca adalah kebejatan dan kekotoran budi pakerti, maka akan mudah ia ...

MAKNA KETULUSAN

Sahabatku, saat kita berbuat baik kepada tetangga atau tamu yang datang ke rumah kita. Ada makna kebaikan yang harus dicermati untuk bisa disebut sebagai ketulusan. Ketulusan sendiri adalah hal yang amat lembut bersembunyi di lubuk hati dan bukan kata terucap dengan lidah. Orang yang tidak beriman pun bisa berbuat baik kepada tetangga dengan memberi pertolongan, penghormatan atau santunan materi. Artinya berbuat baik kepada sesama itu hal yang lazim dilakukan, baik bagi yang beriman atau yang tidak beriman. Namun yang harus senantiasa kita cermati adalah hal yang akan menjadikan kebaikan itu bermakna, yaitu ketulusan. Perbuatan baik yang semata-mata kita lakukan hanya mengharap balasan dari Allah SWT. Hati-hatilah ! Ternyata dalam ketulusan ada virus yang menghancurkan makna ketulusan, virus yang amat halus, sehalus ketulusan itu sendiri. Virus tersebut adalah riya’ atau maksud yang tersembunyi di balik sebuah kebaikan yang dilakukan selain karena Allah. Rasulullah SAW pernah meng...

ISLAM MENGHUKUM DENGAN KEINDAHAN

Keindahan Islam sering dihadirkan oleh musuh-musuh Allah atau orang yang di dalam hatinya masih tersembunyi keraguan akan keagungannya. Sering keindahan Islam diplesetkan dengan sesuatu yang mengerikan dan menakutkan. Seperti hukuman rajam, qishos dan mati bagi orang murtad. Tetapi jika disadari sepenuhnya semua itu ditegakan demi keindahan bangsa manusia itu sendiri. Seperti orang yang dihukumi oleh Islam sebagai orang yang murtad (keluar dari agama Islam) maka yang harus ditegakkan oleh pemerintah Islam adalah memberikan hukuman kepada orang tersebut dengan hukum bunuh. Akan tetapi musuh Allah menghadirkan hukuman ini dengan sesuatu yang menyeramkan bukan dengan keindahan. Jika orang yang mengerti Islam, keagungan Islam dan keindahan Islam maka akan sangat mudah memahami keindahan hukum bunuh bagi orang yang murtad. Sesungguhnya di dalam Islam jika ada orang yang keluar dari agama Islam memang harus dibunuh, akan tetapi ketahuilah bahwa orang tersebut tidak langsung dibunuh. Dal...

KENAPA SEMUA TERLIHAT JAHAT?

Rasulullah SAW mengajarkan kepada kita untuk berlapang dada. Jika kita harus marah pun, kita tidak boleh mendendam. Inilah obat kesejukan penghantar keindahan hidup dalam kebersamaan. Hati yang pendendam akan selalu tersiksa, selama ia masih hidup bersama dengan sesamanya, maka ia akan selalu menemukan kesalahan karena manusia adalah makhluk yang bisa bersalah. Sahabatku, diceritakan ada seorang yang mengeluhkan rasa sakit di setiap bagian tubuhnya apabila disentuh oleh jari telunjuknya, dan ia pun berusaha untuk mengobati rasa sakitnya, namun sakit itu pun tidak kunjung sembuh, sekujur tubuhnya masih saja terasa sakit jika disentuh oleh jari telunjuknya. Sungguh orang tersebut tidaklah akan pernah menemukan obat jika ternyata yang diperiksakan ke dokter adalah hanya bagian tubuh yang disentuh oleh jari telunjuknya saja. Sementara ia melupakan jari telunjuknya yang justru merupakan sumber dari sakit itu sendiri. Perumpamaan di atas adalah sebuah gambaran tentang sikap hati yang ...